Perjalanan bersama Al Qur'an
Perjalanan bersama Al Qur'an
@Syair As Situju
Aku bukan berasal dari keluarga yang memiliki peran penting dalam beragama.
Aku memulai belajar agama itu pastinya dari belajar membaca Al Qur'an. Berawal dari diajarkan mengaji oleh nenek dengan metode Al bayan versi Bugis waktu masih kelas 2 SD. Waktu itu aku bersekolah di lingkungan labuangpatu tinggal dengan kakaknya bapak. Dan di kelas 3 kembali ke perantauan dimana tempat orang tua bermukim. Lalu lanjut diajar ngajinya Ama bapak dan masih menggunakan metode yang sama namun belum juga khatam. Setelah itu melanjutkan belajar Al Qur'an dengan seorang Ustadz (Ustadz Drs.Jufri Fauzi) disebuah musholla (sekarang sudah menjadi masjid) dengan metode Iqra. Baru memulai bacaan juz pertama orang tua memutuskan untuk pindah mukim di desa sebelah. Maka putus lagi belajar Al Qur'annya. Di desa sebelah melanjutkan belajar baca Al Qur'an baru aja beberapa hari sudah waktu liburan akhirnya putus lagi belajar Al Qur'annya.
Selanjutnya didirikan sebuah Yayasan pendidikan Agama Islam di desa dimana lalu aku bermukim. Dimana di yayasan itu didirikan sekolah mulai dari RA sampai MA. Dan aku pun melanjutkan pendidikan disana. Sempat sih sekolah di sebuah sekolah umum (SMP) hampir satu semester. Itu terjadi karena aku mengira tak kawan membersamaiku untuk berangkat ke sekolah. Dan lagian SMP itu aksesnya dekat.
Baiklah dilanjut sampai lulus Mts maka didirikan pulalah pesantren di yayasan tempat aku bersekolah. Dan disan aku melanjutkan belajar Al Qur'an. Dan mengajinya tak lagi fokus pada menghatamkan Al Qur'an, tapi lebih kepada agar melancarkan bacaan.
Satu hal yang terjadi aku tak bisa maksimal untuk belajar di pesantren. Sebab setiap Ahad harus pulang membantu orang tua menggarap kebun. Alhasil teman-teman yang di pesantren berhasil menghatamkan hafalan juz 30, sedangkan aku tidak.
Setelah lulus dari MA aku melanjutkan perjalanan menempuh pendidikan di kota Makassar. Suatu kesyukuran Allah mempertemukan aku dengan sahabat-sahabat yang memiliki aktivitas belajar Agama. Didalam perjalanan kuliah itulah aku melanjutkan belajar Al Qur'an sekaligus memahami agama. Di Makassar aku mengenal metode fasih membaca Al Qur'an yang disebut metode tahsin, dimana membuat sebuah lingkaran dan dibimbing oleh seorang Ustadz yang mengoreksi bacaan kami.
Di kota Makassarlah aku menghatamkan Al Qur'an dan di Makassar pula aku menghatamkan bacaan Al Qur'an sekaligus terjemahannya. Dikala aku membaca ayat per ayat dengan di ikuti terjemahan. Sungguh aku merasa bahwa Al Qur'an itu sungguh menakjubkan. Wajar saja kalau ada yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu sastra terbaik.
Baiklah sekian dulu tulisan ini semoga dapat menginspirasi dan pastinya pelajarilah Islam dari sumbernya (Al Qur'an & Hadits) berusaha mencapai takwa. Jangan beragama karena ikut-ikutan atau karena keberuntungan terlahir dari keluarga yang beragama Islam. So Islam itu agama ilmu sob. Sangat sangat perlu dipelajari.
@Syair As Situju
Aku bukan berasal dari keluarga yang memiliki peran penting dalam beragama.
Aku memulai belajar agama itu pastinya dari belajar membaca Al Qur'an. Berawal dari diajarkan mengaji oleh nenek dengan metode Al bayan versi Bugis waktu masih kelas 2 SD. Waktu itu aku bersekolah di lingkungan labuangpatu tinggal dengan kakaknya bapak. Dan di kelas 3 kembali ke perantauan dimana tempat orang tua bermukim. Lalu lanjut diajar ngajinya Ama bapak dan masih menggunakan metode yang sama namun belum juga khatam. Setelah itu melanjutkan belajar Al Qur'an dengan seorang Ustadz (Ustadz Drs.Jufri Fauzi) disebuah musholla (sekarang sudah menjadi masjid) dengan metode Iqra. Baru memulai bacaan juz pertama orang tua memutuskan untuk pindah mukim di desa sebelah. Maka putus lagi belajar Al Qur'annya. Di desa sebelah melanjutkan belajar baca Al Qur'an baru aja beberapa hari sudah waktu liburan akhirnya putus lagi belajar Al Qur'annya.
Selanjutnya didirikan sebuah Yayasan pendidikan Agama Islam di desa dimana lalu aku bermukim. Dimana di yayasan itu didirikan sekolah mulai dari RA sampai MA. Dan aku pun melanjutkan pendidikan disana. Sempat sih sekolah di sebuah sekolah umum (SMP) hampir satu semester. Itu terjadi karena aku mengira tak kawan membersamaiku untuk berangkat ke sekolah. Dan lagian SMP itu aksesnya dekat.
Baiklah dilanjut sampai lulus Mts maka didirikan pulalah pesantren di yayasan tempat aku bersekolah. Dan disan aku melanjutkan belajar Al Qur'an. Dan mengajinya tak lagi fokus pada menghatamkan Al Qur'an, tapi lebih kepada agar melancarkan bacaan.
Satu hal yang terjadi aku tak bisa maksimal untuk belajar di pesantren. Sebab setiap Ahad harus pulang membantu orang tua menggarap kebun. Alhasil teman-teman yang di pesantren berhasil menghatamkan hafalan juz 30, sedangkan aku tidak.
Setelah lulus dari MA aku melanjutkan perjalanan menempuh pendidikan di kota Makassar. Suatu kesyukuran Allah mempertemukan aku dengan sahabat-sahabat yang memiliki aktivitas belajar Agama. Didalam perjalanan kuliah itulah aku melanjutkan belajar Al Qur'an sekaligus memahami agama. Di Makassar aku mengenal metode fasih membaca Al Qur'an yang disebut metode tahsin, dimana membuat sebuah lingkaran dan dibimbing oleh seorang Ustadz yang mengoreksi bacaan kami.
Di kota Makassarlah aku menghatamkan Al Qur'an dan di Makassar pula aku menghatamkan bacaan Al Qur'an sekaligus terjemahannya. Dikala aku membaca ayat per ayat dengan di ikuti terjemahan. Sungguh aku merasa bahwa Al Qur'an itu sungguh menakjubkan. Wajar saja kalau ada yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu sastra terbaik.
Baiklah sekian dulu tulisan ini semoga dapat menginspirasi dan pastinya pelajarilah Islam dari sumbernya (Al Qur'an & Hadits) berusaha mencapai takwa. Jangan beragama karena ikut-ikutan atau karena keberuntungan terlahir dari keluarga yang beragama Islam. So Islam itu agama ilmu sob. Sangat sangat perlu dipelajari.
Komentar
Posting Komentar